“Menikah itu butuh ilmu, bukan hanya sekedar ajang
melampiaskan nafsu dengan berlabel halal. Menikah butuh keyakinan iman dalam
menjalankan ibadah seumur hidup”
-Ust. Bendri-
Seketika
aku terbata-bata saat ditanya “Apa tujuanmu menikah?”, lalu aku jawab “insha
Allah untuk ibadah mas”. Namun tahukah bahwa aku belum benar-benar paham
tentang arti ibadah itu, yang terfikirkan dengan pikiran polosku saat itu, kan
enak ya nikah udah gak sendirian lagi, kita bermesraan sama pasangan halal kita
pun sudah dapat pahala. Dan tanpa berfikir panjang untuk mendalami makna
pernikahan lebih lanjut, atas restu keluarga, aku pun menerima lamaran mas. Dan
kami menikah.
Setelah menikah, rasanya dunia
milik berdua (sepertinya masih hingga saat ini menginjakkan usia ke 5 bulan
pernikahan kami :p ). Rasanya bahagia, meskipun aku harus meninggalkan pekerjaan yang
sangat aku senangi ditengah lingkungan yang aku idamkan sejak dulu, merelakan sahabat dan teman-teman
yang selalu membuat aku nyaman berada dekat mereka, dan merelakan jarak
memisahkanku dengan keluarga, orang-orang terkasih.
Kebetulan mas suami yang aslinya dari
Surabaya, mendapatkan rezeki mencari nafkah di Cilegon, sebuah kota yang belum
pernah aku kunjungi
sebelumnya. Sebuah kota kecil, kota industri, yang tentunya tidak bisa
dibandingkan dengan Bandung.
Kami tinggal disebuah kontrakan kecil yang
nyaman dan aman, milik bu RT. Alhamdulillah dengan
harga sewa yang tidak begitu mahal. Terimakasih bu RT ;).
Walaupun
mas sering mengeluh bahwa dia tidak begitu kerasan tinggal di Cilegon (tapi
setelah aku temenin, jadi betah-betah aja kan mas? Hihi).
Setelah
menikah, pastinya kami tidak bisa saling menutupi sifat asli masing-masing.
Kami masih beradaptasi dengan status dan kehidupan yang serba baru ini. Terkadang perbedaan membuat kami
berdebat tapi seringkali ditutup dengan canda tawa. Ya sampai kapanpun pasti
tidak ada orang yang cocok 100% kan, yang ada hanyalah kita saling menyesuaikan
diri. Yang bikin aku kagum, justru sifat-sifat baik mas yang gak pernah aku
lihat sebelum menikah semakin nampak setiap harinya. Itu yang selalu aku
syukuri hingga detik ini.
Alhamdulillah, tidak lama aku dipanggil untuk bergabung dengan sebuah playschool yang memilki background yang sama dengan tempatku bekerja dulu. Pekerjaan yang sangat
aku senangi sejak dulu hingga kini. Tidak hentinya Allah memberikan kebahagiaan
kepada kami, kebahagiaan kami bertambah ketika menemukan dua garis merah pada alat uji kehamilan, yang kemudian
kami pastikan lagi ke dokter kandungan. Alhamdulillah nimat-Nya yang manakah yang kan kau dustakan?
Rasanya saya orang yang paling bahagia di dunia ini. J
Namun, dua minggu kemudian tiba-tiba roda
kehidupan berputar begitu cepat. Sepulang bermain
dengan anak-anak di sekolah, aku mengalami pendarahan, opname, hingga dihari
esoknya dokter berkata bahwa sudah tidak bisa diselamatkan. “di ikhlaskan ya bu”,
katanya. Karena kejadian ini, mas memintaku untuk istirahat di rumah dulu dan tidak melanjutkan
kontrak di sekolah. Dengan rasa sedih, aku pun mengikhlaskan keduanya, calon anak
kami, dan pekerjaan yang paling aku senangi, aku hanya mengharap ridho suami dan selalu meminta do’a kepada "keempat" orang tua
kami.
Tidak berselang lama pun, mas kena
Hipertensi dan harus rutin mengkonsumsi obat. Untuk menghindari
obat-obatan dokter kami mencoba cari alternatif, pengobatan herbal. Namun, atas
ketidaktahuan kami justru kandungan dalam obat herbal tersebut memicu munculnya
penyakit lain yang sempat membuat lutut mas nyeri dan tidak dapat berjalan
beberapa hari. Kami pun kembali ke Rumah Sakit dan berkonsultasi dengan dokter,
juga melakukan beberapa check lab dan USG. Dari hasil check lab dan melalui
proses observasi, dokter menemukan kejanggalan mas dirujuk ke dokter spesialis ginjal dan hipertensi. Kami
dapat rekomendasi seorang professor di sebuah Rumah Sakit ternama di Karawaci.
Bagaimana hasil konsultasi dengan prof
tersebut? cukup mengagetkan hasilnya, dengan vonis gagal ginjal kronis stad.
4. Speechless.. Karena ternyata sempat kecolongan pada saat medical check up tahunan, yang seharusnya
sudah dapat diketahui dari beberapa tahun yang lalu, Tentunya dengan stadium
yang lebih ringan. Kami tidak menyalahkan siapapun. Ini sudah jalan takdir yang
harus kami lalui.
Keluar
dari ruang konsultasi kami tidak banyak berbicara. Masing-masing masih sibuk
dengan kegundahan yang sama. Kami langsung menuju masjid untuk shalat, untuk
mengadu atas kegundahan yang dirasakan. Dan memohon ampun atas segala khilaf.
Kami baru saja menerima surat cinta dari Mu ya Allah. Ternyata Kau Rindu.
Pada
konsul selanjutnya dengan dokter, selain menguatkan, dokter pun menceritakan hal-hal terpahit yang
mungkin akan terjadi kedepan. Kita harus siapkan diri dengan apapun yang akan
terjadi nanti. Yang paling saya ingat dari perkataan dokter adalah "ginjal
boleh rusak tapi hidupmu jangan sampai rusak". Dan dokter menghibur
dengan menceritakan banyak
juga kisah yang dapat melalui penyakit kronis ini dengan baik dan hidup seperti
orang pada umumnya. Dengan beberapa “penanganan khusus”
tentunya.
Mas cukup tegar menerima surat
cinta dari Allah ini. Justru mas yang selalu menguatkanku, dan berkata bahwa Allah rindu, kita
yang perlu instropeksi diri selama ini. Tapi tahukah, ternyata dibalik senyum dan semangatnya itu, dia
sedang menahan kegundahan hatinya. Sesaat setelah melakukan shalat berjamaah di mesjid, dari barisan
shaf perempuan aku intip
mas, aku melihat raut wajah yang berbeda darinya, aku tau sejak lama
dia memendam kesedihan itu dan ingin selalu kuat di depanku, matanya merah. Ketika kami bertemu aku bilang bahwa menangispun tidak apa-apa,
justru tidak baik kalau ditahan, sewajarnya manusia menangis saat merasa sedih. Aku
ada untuk kamu. Dia pun
bersandar di bahuku, tetesan air jatuh, isakan kecil terdengar. Saat itu pertama
kalinya aku melihat dia
menangis. Hatiku sedih, sakit, perih.
Pada
titik ini, aku baru mengerti arti dari “menikah itu ibadah” yang sesungguhnya. Seorang
sahabat pernah berkata bahwa menikah itu adalah ibadah seumur hidup, karena
setelah ijab kabul terucap, saat itu kamu mendedikasikan diri untuk seseorang ditengan
kelebihan dan kekurangannya, baik saat senang maupun duka. Tujuannya demi
mendapat ridho dari Allah SWT. Dan kamu harus menghadapinya. Bersama.
Disini aku baru mengerti apa yang sering orang
bilang tentang saat menikah kamu akan merasakan "ujian hidup" yang
sesungguhnya. Karena ternyata bukan hanya kami saja yang diuji,
setiap pernikahan memiliki ceritanya masing-masing. Entah itu diuji lewat
anaknya, hubungan keluarga besarnya, masalah ekonomi, masalah kesetiaan, dan
berbagai masalah lainnya. Setiap
pernikahan pasti
memiliki ujiannya masing-masing, apapun itu.
Kamu tidak berhak untuk bilang bahwa
ujianku yang paling berat daripada ujian yang terjadi pada keluarga yang lain. Jika bertukar
peran, belum tentu kamu mampu menghadapi ujian yang sedang diperjuangkan oleh
orang lain. Karena sejatinya
Allah menguji hambaNya sesuai
dengan kemampuan hambaNya. Kita tidak bisa membanding- bandingkan ujian yang kita hadapi dengan
yang orang lain hadapi. Yang terpenting adalah bagaimana proses kita melewati
ujianNya hingga dapat naik kelas dengan “nilai” yang bagus dengan cara yang
mulia. Oleh karenanya kita juga butuh ilmu tentunya, ilmu yang masih terus kita
pelajari disetiap harinya.
Alhamdulillah, sekarang kami sudah
menerima kenyataan dan sedang berjuang untuk menghadapinya sebaik mungkin. Tanpa
berprasangka atau berandai-andai lagi, karena masa depan tidak ada yang tau
kecuali Allah semata. Berusaha tetap semangat menjalani kehidupan ditengah lika
likunya.
Dibalik
segala yang kami hadapi, alhamdulillah
ternyata banyak hal juga yang patut kami syukuri dan tidak ada alasan untuk
tidak berbahagia. Karena jika disadari baik kesulitan maupun kemudahan keduanya
adalah Nikmat. Jadikanlah keduanya sebagai tiket kita menuju syurgaNya, dengan
syukur dan sabar. Tetap yakin
Kuasa Allah tidak ada yang tidak mungkin. Kuncinya ikhtiar semaksimalnya. Tidak
ada yang tidak mungkin bagi Allah. Jika Allah berkehendak untuk sembuh, Kunfayakun..
Menyesal
gak dengan segala yang dihadapi setelah menikah? Jawabannya “enggak sama sekali”.
Justru dengan ini, rasa sayang kami semakin bertambah satu sama lain, hubungan
kami dengan Sang Pemilik Hidup pun terus berusaha kami perbaiki (walaupun
memang keimanan terkadang naik terkadang turun, tapi kami berusaha saling
mengingatkan). Saling menjaga dan saling menguatkan. Ikhtiar semaksimalnya untuk menghadapi hal
ini. Selanjutnya hanya sabar dan shalat, nasehat itu yang sering dinasihatkan
oleh mas padaku. Begitulah indahnya sebuah pernikahan, apapun yang terjadi tetap
berjuang bersama dalam naungan kasih sayang Allah. Dan tentunya dukungan dari “kedua”
keluarga besar dan do’a dari orangtua kami yang selalu membersamai kami.
Sekian
kisahku. Mohon maaf kalau ada yang kurang berkenan, tolong diambil hal-hal yang
baiknya saja, dan semoga ada pelajaran yang dapat diambil.
Untuk
siapapun yang membaca ini, dimanapun kalian berada, ujian apapun yang sedang
kamu hadapi, tetap berjuang! Sabar dan shalat, sesungguhnya Allah selalu
bersama kita, dan Allah pun menjanjikan dalam QS Al-Insyirah, dibalik kesulitan
pasti ada kemudahan.. insha Allah.. J
Aku
akan tutup dengan sebuah tulisan yang bisa jadi penyemangat ketika sedang
sedih, (sejujurnya aku gak tahu darimana sumbernya, tapi insha Allah bagus
isinya):
Seorang pemuda yang sedang dirundung kesedihan
datang menemui Sayidina Ali bin Abi Tholib, ia pun berkata:
Pemuda :
“Wahai Amirul Mukminin, aku datang kepadamu karena aku sudah tidak mampu lagi
menahan beban kesedihanku.”
Sayidina Ali: “Aku akan bertanya dua pertanyaan dan jawablah! Apakah engkau
datang kedunia ini bersama masalah-masalah ini?”
Pemuda :
“tentu tidak”
Sayidina Ali: “lalu apakah kamu akan
meninggalkan dunia dengan membawa masalah-masalah ini?”
Pemuda :
“Tidak juga”
Sayidina Ali:
“Lalu mengapa kau harus bersedih atas apa
yang tidak kau bawa saat datang dan tidak mengikutimu saat kau pergi?”
“Seharusnya hal ini tidak membuatmu
bersedih seperti ini. Bersabarlah atas urusan dunia. Jadikanlah pandanganmu ke
langit lebih panjang dari pandanganmu ke bumi, dan kau pun akan mendapat apa
yang kau inginkan. Tersenyumlah karena rezekimu telah dibagi dan hidupmu telah
diatur. Urusan dunia tidak layak untuk membuatmu bersedih semacam ini. Karena semuanya
ada di tangan Yang Maha Hidup dan Maha Mengatur”
Kemudian Sayidina Ali meneruskan
ungkapannya
“Seorang
mukmin hidup dalam dua hal, yaitu kesulitan dan kemudahan. Keduanya adalah
nikmat jika ia sadari.
Dibalik
kemudahan ada rasa syukur. Sementara Allah berfirman ‘Allah akan memberi
balasan kepada orang yang bersyukur’ (QS. Ali Imran:144)
Dan
dibalik kesulitan ada kesabaran, Allah berfirman ‘Hanya orang-orang yang
bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.’ (QS. AzZumar:10)
Bagi
seorang mukmin, kesulitan dan kemudahan adalah ladang untuk menabung pahala dan
hadiah dari Allah SWT. Lalu kenapa masih bersedih?
Jangan selalu mengeluh “Ohh masalahku
begitu besar” tapi katakan pada masalah itu “Sungguh aku punya Allah sebagai
pelindungku”
Lantas nikmatNya manakah yang kan kau
dustakan?”


