Rabu, 31 Januari 2018

"Surat Cinta" untuk Aku dan Mas


“Menikah itu butuh ilmu, bukan hanya sekedar ajang melampiaskan nafsu dengan berlabel halal. Menikah butuh keyakinan iman dalam menjalankan ibadah seumur hidup” 
-Ust. Bendri-

Seketika aku terbata-bata saat ditanya “Apa tujuanmu menikah?”, lalu aku jawab “insha Allah untuk ibadah mas”. Namun tahukah bahwa aku belum benar-benar paham tentang arti ibadah itu, yang terfikirkan dengan pikiran polosku saat itu, kan enak ya nikah udah gak sendirian lagi, kita bermesraan sama pasangan halal kita pun sudah dapat pahala. Dan tanpa berfikir panjang untuk mendalami makna pernikahan lebih lanjut, atas restu keluarga, aku pun menerima lamaran mas. Dan kami menikah.

Setelah menikah, rasanya dunia milik berdua (sepertinya masih hingga saat ini menginjakkan usia ke 5 bulan pernikahan kami :p ). Rasanya bahagia, meskipun aku harus meninggalkan pekerjaan yang sangat aku senangi ditengah lingkungan yang aku idamkan sejak dulu, merelakan sahabat dan teman-teman yang selalu membuat aku nyaman berada dekat mereka, dan merelakan jarak memisahkanku dengan keluarga, orang-orang terkasih.

Kebetulan mas suami yang aslinya dari Surabaya, mendapatkan rezeki mencari nafkah di Cilegon, sebuah kota yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Sebuah kota kecil, kota industri, yang tentunya tidak bisa dibandingkan dengan Bandung. 

Kami tinggal disebuah kontrakan kecil yang nyaman dan aman, milik bu RT. Alhamdulillah dengan harga sewa yang tidak begitu mahal. Terimakasih bu RT ;).
Walaupun mas sering mengeluh bahwa dia tidak begitu kerasan tinggal di Cilegon (tapi setelah aku temenin, jadi betah-betah aja kan mas? Hihi).

Setelah menikah, pastinya kami tidak bisa saling menutupi sifat asli masing-masing. Kami masih beradaptasi dengan status dan kehidupan yang serba baru ini. Terkadang perbedaan membuat kami berdebat tapi seringkali ditutup dengan canda tawa. Ya sampai kapanpun pasti tidak ada orang yang cocok 100% kan, yang ada hanyalah kita saling menyesuaikan diri. Yang bikin aku kagum, justru sifat-sifat baik mas yang gak pernah aku lihat sebelum menikah semakin nampak setiap harinya. Itu yang selalu aku syukuri hingga detik ini.

Alhamdulillah, tidak lama aku dipanggil untuk bergabung dengan sebuah playschool yang memilki background yang sama dengan tempatku bekerja dulu. Pekerjaan yang sangat aku senangi sejak dulu hingga kini. Tidak hentinya Allah memberikan kebahagiaan kepada kami, kebahagiaan kami bertambah ketika menemukan dua garis merah pada alat uji kehamilan, yang kemudian kami pastikan lagi ke dokter kandungan. Alhamdulillah nimat-Nya yang manakah yang kan kau dustakan? Rasanya saya orang yang paling bahagia di dunia ini. J

Namun, dua minggu kemudian tiba-tiba roda kehidupan berputar begitu cepat. Sepulang bermain dengan anak-anak di sekolah, aku mengalami pendarahan, opname, hingga dihari esoknya dokter berkata bahwa sudah tidak bisa diselamatkan. “di ikhlaskan ya bu”, katanya. Karena kejadian ini, mas memintaku untuk istirahat di rumah dulu dan tidak melanjutkan kontrak di sekolah. Dengan rasa sedih, aku pun mengikhlaskan keduanya, calon anak kami, dan pekerjaan yang paling aku senangi, aku hanya mengharap ridho suami dan selalu meminta doa kepada "keempat" orang tua kami.

Tidak berselang lama pun, mas kena Hipertensi dan harus rutin mengkonsumsi obat. Untuk menghindari obat-obatan dokter kami mencoba cari alternatif, pengobatan herbal. Namun, atas ketidaktahuan kami justru kandungan dalam obat herbal tersebut memicu munculnya penyakit lain yang sempat membuat lutut mas nyeri dan tidak dapat berjalan beberapa hari. Kami pun kembali ke Rumah Sakit dan berkonsultasi dengan dokter, juga melakukan beberapa check lab dan USG. Dari hasil check lab dan melalui proses observasi, dokter menemukan kejanggalan mas dirujuk ke dokter spesialis ginjal dan hipertensi. Kami dapat rekomendasi seorang professor di sebuah Rumah Sakit ternama di Karawaci.

Bagaimana hasil konsultasi dengan prof tersebut? cukup mengagetkan hasilnya, dengan vonis gagal ginjal kronis stad. 4. Speechless.. Karena ternyata sempat kecolongan pada saat medical check up tahunan, yang seharusnya sudah dapat diketahui dari beberapa tahun yang lalu, Tentunya dengan stadium yang lebih ringan. Kami tidak menyalahkan siapapun. Ini sudah jalan takdir yang harus kami lalui.

Keluar dari ruang konsultasi kami tidak banyak berbicara. Masing-masing masih sibuk dengan kegundahan yang sama. Kami langsung menuju masjid untuk shalat, untuk mengadu atas kegundahan yang dirasakan. Dan memohon ampun atas segala khilaf. Kami baru saja menerima surat cinta dari Mu ya Allah. Ternyata Kau Rindu.

Pada konsul selanjutnya dengan dokter, selain menguatkan, dokter pun menceritakan hal-hal terpahit yang mungkin akan terjadi kedepan. Kita harus siapkan diri dengan apapun yang akan terjadi nanti. Yang paling saya ingat dari perkataan dokter adalah "ginjal boleh rusak tapi hidupmu jangan sampai rusak". Dan dokter menghibur dengan menceritakan banyak juga kisah yang dapat melalui penyakit kronis ini dengan baik dan hidup seperti orang pada umumnya. Dengan beberapa “penanganan khusus” tentunya.

Mas cukup tegar menerima surat cinta dari Allah ini. Justru mas yang selalu menguatkanku, dan berkata bahwa Allah rindu, kita yang perlu instropeksi diri selama ini. Tapi tahukah, ternyata dibalik senyum dan semangatnya itu, dia sedang menahan kegundahan hatinya. Sesaat setelah melakukan shalat berjamaah di mesjid, dari barisan shaf perempuan aku intip mas, aku melihat raut wajah yang berbeda darinya, aku tau sejak lama dia memendam kesedihan itu dan ingin selalu kuat di depanku, matanya merah. Ketika kami bertemu aku bilang bahwa menangispun tidak apa-apa, justru tidak baik kalau ditahan, sewajarnya manusia menangis saat merasa sedih. Aku ada untuk kamu. Dia pun bersandar di bahuku, tetesan air jatuh, isakan kecil terdengar. Saat itu pertama kalinya aku melihat dia menangis. Hatiku sedih, sakit, perih.

Pada titik ini, aku baru mengerti arti dari “menikah itu ibadah” yang sesungguhnya. Seorang sahabat pernah berkata bahwa menikah itu adalah ibadah seumur hidup, karena setelah ijab kabul terucap, saat itu kamu mendedikasikan diri untuk seseorang ditengan kelebihan dan kekurangannya, baik saat senang maupun duka. Tujuannya demi mendapat ridho dari Allah SWT. Dan kamu harus menghadapinya. Bersama.

Disini aku baru mengerti apa yang sering orang bilang tentang saat menikah kamu akan merasakan "ujian hidup" yang sesungguhnya. Karena ternyata bukan hanya kami saja yang diuji, setiap pernikahan memiliki ceritanya masing-masing. Entah itu diuji lewat anaknya, hubungan keluarga besarnya, masalah ekonomi, masalah kesetiaan, dan berbagai masalah lainnya. Setiap pernikahan pasti memiliki ujiannya masing-masing, apapun itu.

Kamu tidak berhak untuk bilang bahwa ujianku yang paling berat daripada ujian yang terjadi pada keluarga yang lain. Jika bertukar peran, belum tentu kamu mampu menghadapi ujian yang sedang diperjuangkan oleh orang lain. Karena sejatinya Allah menguji hambaNya sesuai dengan kemampuan hambaNya. Kita tidak bisa membanding- bandingkan ujian yang kita hadapi dengan yang orang lain hadapi. Yang terpenting adalah bagaimana proses kita melewati ujianNya hingga dapat naik kelas dengan “nilai” yang bagus dengan cara yang mulia. Oleh karenanya kita juga butuh ilmu tentunya, ilmu yang masih terus kita pelajari disetiap harinya.

Alhamdulillah, sekarang kami sudah menerima kenyataan dan sedang berjuang untuk menghadapinya sebaik mungkin. Tanpa berprasangka atau berandai-andai lagi, karena masa depan tidak ada yang tau kecuali Allah semata. Berusaha tetap semangat menjalani kehidupan ditengah lika likunya.

Dibalik segala yang kami hadapi, alhamdulillah ternyata banyak hal juga yang patut kami syukuri dan tidak ada alasan untuk tidak berbahagia. Karena jika disadari baik kesulitan maupun kemudahan keduanya adalah Nikmat. Jadikanlah keduanya sebagai tiket kita menuju syurgaNya, dengan syukur dan sabar. Tetap yakin Kuasa Allah tidak ada yang tidak mungkin. Kuncinya ikhtiar semaksimalnya. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Jika Allah berkehendak untuk sembuh, Kunfayakun..

Menyesal gak dengan segala yang dihadapi setelah menikah? Jawabannya “enggak sama sekali”. Justru dengan ini, rasa sayang kami semakin bertambah satu sama lain, hubungan kami dengan Sang Pemilik Hidup pun terus berusaha kami perbaiki (walaupun memang keimanan terkadang naik terkadang turun, tapi kami berusaha saling mengingatkan). Saling menjaga dan saling menguatkan. Ikhtiar semaksimalnya untuk menghadapi hal ini. Selanjutnya hanya sabar dan shalat, nasehat itu yang sering dinasihatkan oleh mas padaku. Begitulah indahnya sebuah pernikahan, apapun yang terjadi tetap berjuang bersama dalam naungan kasih sayang Allah. Dan tentunya dukungan dari “kedua” keluarga besar dan do’a dari orangtua kami yang selalu membersamai kami.

Sekian kisahku. Mohon maaf kalau ada yang kurang berkenan, tolong diambil hal-hal yang baiknya saja, dan semoga ada pelajaran yang dapat diambil.

Untuk siapapun yang membaca ini, dimanapun kalian berada, ujian apapun yang sedang kamu hadapi, tetap berjuang! Sabar dan shalat, sesungguhnya Allah selalu bersama kita, dan Allah pun menjanjikan dalam QS Al-Insyirah, dibalik kesulitan pasti ada kemudahan.. insha Allah.. J

Aku akan tutup dengan sebuah tulisan yang bisa jadi penyemangat ketika sedang sedih, (sejujurnya aku gak tahu darimana sumbernya, tapi insha Allah bagus isinya):

Seorang pemuda yang sedang dirundung kesedihan datang menemui Sayidina Ali bin Abi Tholib, ia pun berkata:

Pemuda       : “Wahai Amirul Mukminin, aku datang kepadamu karena aku sudah tidak mampu lagi menahan beban kesedihanku.”

Sayidina Ali: “Aku akan bertanya dua pertanyaan dan jawablah! Apakah engkau datang kedunia ini bersama masalah-masalah ini?”

Pemuda       : “tentu tidak”

Sayidina Ali: “lalu apakah kamu akan meninggalkan dunia dengan membawa masalah-masalah ini?”

Pemuda       : “Tidak juga”

Sayidina Ali:

“Lalu mengapa kau harus bersedih atas apa yang tidak kau bawa saat datang dan tidak mengikutimu saat kau pergi?”

“Seharusnya hal ini tidak membuatmu bersedih seperti ini. Bersabarlah atas urusan dunia. Jadikanlah pandanganmu ke langit lebih panjang dari pandanganmu ke bumi, dan kau pun akan mendapat apa yang kau inginkan. Tersenyumlah karena rezekimu telah dibagi dan hidupmu telah diatur. Urusan dunia tidak layak untuk membuatmu bersedih semacam ini. Karena semuanya ada di tangan Yang Maha Hidup dan Maha Mengatur”

Kemudian Sayidina Ali meneruskan ungkapannya

“Seorang mukmin hidup dalam dua hal, yaitu kesulitan dan kemudahan. Keduanya adalah nikmat jika ia sadari.

Dibalik kemudahan ada rasa syukur. Sementara Allah berfirman ‘Allah akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur’ (QS. Ali Imran:144)

Dan dibalik kesulitan ada kesabaran, Allah berfirman ‘Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.’ (QS. AzZumar:10)

Bagi seorang mukmin, kesulitan dan kemudahan adalah ladang untuk menabung pahala dan hadiah dari Allah SWT. Lalu kenapa masih bersedih?

Jangan selalu mengeluh “Ohh masalahku begitu besar” tapi katakan pada masalah itu “Sungguh aku punya Allah sebagai pelindungku”


Lantas nikmatNya manakah yang kan kau dustakan?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aliran Rasa Game Level 8

Bismillah Amalia Ulfah Mulyasani Game level 8 #Aliran Rasa Serunya tantangan di kelas bunsay kali ini. Mengenai mendidik anak cerdas fi...